fbpx
harga kedelai

Harga Kedelai Naik, Pelaku Usaha Tahu dan Tempe Dalam Negeri Menjerit

Menjelang pergantian tahun baru, publik digegerkan dengan adanya kelangkaan tempe dan tahu yang disebabkaan kenaikan bahan baku makanan tersebut, yaitu kedelai. Menurut ketum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifudin mengatakan bahwa kenaikan harga kedelai ini cukup signifikan. 

Harga kedelai ini naik diakibatkan mengikuti trend perkembangan pasar global. Mirisnya Indonesia yang secara fakta masih mengandalkan kedelai impor dari luar negeri, jadi wajar saja harga bahan baku tersebut ikut naik mengikuti pasar global. Sebagai negeri penghasil tempe dan tahu, hal ini sungguh sangat disayangkan.

harga kedelai
Sumber: jatim.suara.com

Kenaikan harga kedela ini mulai melonjak selama pandemi virus corona (covid-19). Di harga normal biasanya kedelai berkisar Rp.6.000-6.500 per kilogram, namun kini naik menjadi sekitar Rp.9.500 perkilogram. Sangat signifikan dengan perbedaan hingga Rp.3.000-3.500 per kilogram.

Harga Kedelai Impor Naik Drastis

Sangat sulit memang membendung perilaku impor kedelai ke Indonesia mengingat dari awal tahun hingga Oktober 2020 menurut data dari BPS, Indonesia sudah mengimpor kedelai sebanyak 2,11 ton dengan total transaksi sebesar $ 842 juta atau sekitar Rp.11,7 triliun, Gede banget yah gengs.

Dari jumlah tersebut, data negara yang paling banyak ekspor kedelainya ke Indonesia diantaranya Amerika Serikat, Kanada, Malaysia, Argentina hingga Prancis. Dari Amerika Serikat sendiri, selama Januari hingga Oktober 2020 ekspor kedelainya sudah mencapai 1,92 juta ton atau jika dikonversikan kedalam uang sebanyak $ 762 juta atau sekitar Rp. 10,6 triliun.

Sumber: hariansederhana.com

Dan jika dihitung selama tiga tahun kemarin, impor kedelai terus meningkat. Di tahun 2018 saja sudah mencapai 2,58 ton, belum lagi kenaikan di tahun 2019 menjadi 2,67 juta ton. Selama itu, AS kembali menjadi negara yang paling banyak memberikan impor kedelai kepada Indonesia.

Sekjen Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto pernah mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai disebabkan Tiongkok menjadi negara paling tinggi tingkat permintaannya. Negeri tirai bambu tersebut mengambil jatah impor terbanyak dari Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar di dunia.

Akibat Dari Permintaan Kedelai Naik

Di bulan Desember 2020 saja permintaan kedelai dari China naik hingga 2 kali li[at dan jika dihitung dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Oleh karena itu berakibat pada berkurangnya jumlah kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat seperti Los Angeles, Long Beach dan Savannah. Maka hal itu menjadi sebuah hambatan untuk memasok kedelai masuk ke negara lain, termasuk Indonesia.

Dengan adanya polemik ini, kita sadari bahwa sudah saatnya untuk menanam biji kedelai di negeri sendiri agar para pelaku usaha tahu dan tempe tidak menjerit, begitupula dengan pengusaha ukm lainnya. Kedelai sendiri menjadi  bahan baku keripik tempe yang saat ini sedang populer dikalangan masyarakat. Tidak menutup kemungkinan harga cemilan tersebut akan berpengaruh.

Peran pemerintah untuk mendukung penanaman kedelai secara mandiri perlu secara tegas harus dilakukan. Rakyat kecil hanya bisa bergantung pada pemegang negeri ini. Jika para pelaku usaha tidak bisa bergantung pada pemerintah lalu pada siapa lagi?

Baca Juga:

One comment

Leave a Reply